Mengisi Liburan Secara Mandiri

11 Mei 2020 | Madrasah | Admin | Dilihat 907 Kali

Muallimin Online,

Sudah lebih satu bulan, sejak 18 Maret sampai hari ini, 10 Mei 2020, liburan atau masa belajar dari rumah telah dilewati oleh santri atau siswa Madrasah Muallimin Muallimat Bahrul Ulum. Ini merupakan liburan yang cukup panjang, karena menurut jadwal dari Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum (YPPBU) Tambakberas Jombang, santri atau siswa Pondok Pesantren Bahrul Ulum akan masuk kembali pada 2 Juni 2020. Masih hampir satu bulan lagi, santri atau siswa akan melalui liburan, sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19.

Dalam mengisi masa liburan atau masa belajar dari rumah yang cukup panjang ini, apa yang harus dilakukan oleh siswa, terutama setelah program Ngaji Online di Madrasah usai diselenggarakan. Tentu yang dilakukan adalah kegiatan-kegiatan positif untuk tujuan meningkatkan kemampuan, khususnya kemampuan dalam menguasai materi belajar di Madrasah atau Pondok Pesantren. Tidak menutup kemungkinan juga, peningkatan kemampuan terkait dengan hobi atau talenta yang dimiliki siswa. Karena itu, semua hal bisa dilakukan dan dicoba dilakukan.

Upaya peningkatan kemampuan dalam pelajaran bisa dilakukan dengan inisitif sendiri atau bersama dengan teman-teman yang lain secara daring. Hal ini bisa dilakukan dengan mengorganisasikan teman sekelas melalui grup WA atau Facebook untuk secara khusus meminta kepada guru mata pelajaran tertentu agar bisa menyampaikan pelajaran secara online. Karena di awal milenial ini, pelaksanaan belajar secara online atau daring sangat mungkin dilakukan, seperti yang sudah dilakukan oleh berbagai institusi pendidikan selama ini. Baik melalui Facebook, YouTube atu Instagram. Misalnya meminta kepada beberapa guru mata pelajaran inti (Nahwu, Shorof, Tauhid, Fiqh, Tafsir, Akhlaq atau mata pelajaran lain yang menjadi pelajaran inti di kelas) untuk mengajar secara online. Satu hari hanya satu pelajaran untuk satu orang guru. Dengan seperti ini, meskipun dalam kondisi libur, tetapi masih bisa mengikuti pelajaran dan tidak tertunda. Tentu tidak semua pelajaran. Dengan enam mata pelajaran saja sudah cukup, karena kondisinya memang dalam kedaruratan.

Upaya lain yang bisa juga dilakukan secara mandiri adalah melakukan pengembangan talenta atau bakat yang dimiliki oleh setiap siswa. Hal ini tentu melihat bakat yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Ada yang memiliki bakat dalam tarik suara atau seni membaca al Quran, maka bisa mengembangkan dengan mencari (searching) guru-guru seni baca al Quran di dalam YouTube. Ada berbagai cara belajar. Bisa dicari di berbagai channel YouTube. Tentu harus mencari guru-guru yang mengajar atau memberi contoh yang memiliki sanad keilmuan yang baik atau guru-guru yang selama ini sudah kita kenal. Agar tidak bosan, siswa bisa membuat jadwal secara mandiri. Tidak harus setiap hari. Bisa dibuat jadwal 2 hari sekali, diselingi dengan belajar yang lain.

Mungkin juga ada yang memiliki bakat menulis indah Arab (khat Arab). Di beberapa website ada konten tutorial menulis khat Arab. Jika langsung mau secara praktis, bisa dicari di YouTube bagaimana cara atau teknik menulis khat Arab. Siswa bisa menyiapkan sendiri alat tulis, yang bisa dijangkau. Tidak perlu mencari sesuai dengan apa yang diperintahkan dalam tutorial. Jika tidak memiliki batang andam, bisa menggunakan bambu dan tinta, atau kalau masih belum memiliki skill dalam menggunakan andam atau bambu dan tinta, bisa menggunakan pensil dulu.

Pengembangan kemampuan atau keterampilan, sebagaimana juga pengembangan dalam berkesenian, sama halnya juga dengan pengembangan pengetahuan, tidak langsung jadi. Butuh proses agar bisa menjadi lebih baik. Kecuali memiliki ilmu laduni, yang kata pengarang Alfiyah Ibn Malik, sangat langka. Mengasah keterampilan atau kemampuan dilakukan secara terus menerus. Perkembangan menjadi lebih baik akan terjadi secara gradual, bahkan tidak bisa kita rasakan secara langsung. Namun jika dibandingkan, dalam rentang waktu tertentu, maka perkembangan itu bisa dilihat.

Upaya lain lagi yang bisa dilakukan adalah dengan menulis. Apa yang ditulis? Apapun yang terlintas dalam pikiran kita. Karena dengan menulis emosi jiwa bisa tersalurkan dengan baik, sama halnya dengan berdiskusi/musyawarah. Juga untuk mengembangkan keterampilan dalam menulis. Untuk mempermudah kita tidak perlu membatasi tema atau bahasan tertentu dalam menulis. Apapun yang terlintas (tergambarkan) dalam pikiran, bisa tuangkan dalam tulisan. Yang penting kaedah dasar dalam menulis dilakukan dengan baik. Misalnya dalam menyusun tulisan yang terdiri dari pembukaan, isi dan, penutup. Bisa juga dengan menuliskan urutan penulisan yang menggunakan logika, idealnya bagaimana, kenyataannya bagaimana, dan solusinya bagaimana.

Namun, bisa juga menuliskan hasil riset (penelitian) kita. Meneliti yang segala hal yang menarik bagi kita. Sesuatu yang menjadi masalah bagi kita atau bagi lingkungan kita. Sesuatu yang selama ini dianggap hal biasa dalam kehidupan sehari-hari. Riset ini bisa dengan melakukan pengamatan, wawancara (bisa melalui WA, atau Medsos lainnya), mendeskripsikan (analisis) kemudian membuat kesimpulan. Sederhana, dan bukan pekerjaan yang rumit. Misalnya, tentang ghosob sandal. Dalam kehidupan sehari-hari di pondok ghosob sandal dianggal hal yang biasa, namun jika dilihat dari hukum fiqih memiliki masalah hukum. Karena merupakan suatu masalah, maka perlu diriset, kenapa masih dilakukan. Karena sekarang posisi kita masing-masing ada di rumah, bisa melakukan riset kondisi di rumah masing-masing. Tema sederhana ini akan menarik, jika mampu diungkapkan dengan baik.

Jika memungkinkan, upaya lain yang bisa dilakukan adalah mengaji sorogan ke guru melalui aplikasi WA, zoom atau lainnya. Kita bisa membaca kitab kuning dari rumah, sementara guru bisa menyimak di rumah-nya juga. Tentu sebelumnya harus ada komunikasi dulu dengan guru yang bersangkutan. Tidak perlu terlalu lama dalam setiap kali belajar. Sekali pertemuan bisa hanya 10-15 menit saja. Dari proses sorogan ini, kita juga bisa bertanya kepada guru bersangkutan jika memiliki masalah yang dihadapi dalam belajar.

Itu beberapa upaya yang bisa kita lakukan dalam mengisi liburan ‘terpaksa’ ini. Tergantung kita bisa menggunakan cara yang bagaimana. Yang penting bermanfaat bagi kita, dan kita bisa menggunakan waktu kita dengan sebaik-baknya. Masih banyak cara dan upaya lain yang bisa dilakukan. Semoga wabah Covid-19 ini segera berakhir. Agar kita bisa kembali pada tanggal 2 Juni 2020 ke Pondok dan bisa bersekolah lagi. Tentu kita tidak berharap liburan ini diperpanjang lagi. Untuk itu, kita harus mentaati anjuran pemerintah untuk diam di rumah (stay at home). Jika ada keperluan sehingga harus keluar rumah, maka kita harus menggunakan masker, menjaga jarak dengan orang lain (physical distancing), dan rajin mencuci tangan. (ma)                  


Liburan Stay At Home Physical Distancing Covid-19 Muallimin

blog comments powered by Disqus