Didikan yang menekankan keseimbangan antara kedalaman ilmu, kematangan akhlak, dan kepekaan sosial, semuanya inilah yang membentuk para alumni Madrasah Mu'allimin Mu'allimat Tambakberas Jombang mampu hadir sebagai figur yang bermakna di tengah masyarakat. Banyak sekali lulusan Mu'allimin Mu'allimat Tambakberas Jombang yang diamanahi suatu kepercayaan di masyarakatnya, Salah satunya adalah KH Salim Azhar dari Sendangduwur, Paciran, Lamongan.
KH. Salim Azhar memegang tongkat amanah sebagai Rais Syuriah PC NU Lamongan mulai dari tahun periode 2018-2023 yang kemudian diperpanjang hingga periode 2025-2030. KH. Salim Azhar mesantren di Tambakberas selama 8 tahun, mulai tahun 1966 sampai dengan 1973. Dua tahun pertama beliau bertempat di pondok Induk komplek Sunan Giri 5, kemudian pindah ke komplek Pangeran Diponegoro 5 pada tahun-tahun selanjutnya. Saat awal masuk di Tambakberas, beliau masuk di kls 5 ibtidaiyyah. Dan pada tahun 1968 yai Salim baru masuk di kelas 1 Madrasah Mu'allimin.
KH. Salim Azhar menceritakan bahwasanya ketika masuk di Tambakberas, beliau mendapati (menangi) beberapa Masyayikh sepuh, diantaranya adalah Mbah Kyai Wahab Chasbullah, Kyai Fattah, Kyai Malik, Kyai Amanullah, Kyai Nashrullah, dll. Banyak yang beliau ceritakan tentang bagaimana para Kyai itu saat mengajar dan memaknai kitab.
Kyai Wahab contohnya, metode mengajinya Yai Wahab beberapa tahun terakhir sebelum beliau wafat adalah para santri membacakan lafadz kitabnya, kemudian beliau yang memaknai dan menjelaskan lafadz kitab tersebut. Hal tersebut dikarenakan penglihatan beliau yang terganggu karena faktor usia. Yai Salim pernah mengaji ke Kyai Wahab saat masih ikut nimbrung ngaji di Masjid (karena masih junior) dan ketika menginjak kelas 4 barulah ikut ngaji di ndalemnya Kyai Wahab.
Yai Salim melanjutkan ceritanya kalau Masyayikh Tambakberas dulu itu saking istiqomahnya ngaji, sampai sampai para santri itu dulu hafal dengan berbagai ciri khasnya.
Selanjutnya adalah KH Abdul Fattah Hasyim. Kyai Fattah adalah kepala madrasah pertama sekaligus pendiri Madrasah Mu'allimin Mu'allimat Bahrul Ulum Tambakberas. Kyai yang terkenal dengan keluasan ilmunya, perhatian, dan telaten dalam mendidik para santri, tak luput dari rekaman historis Kyi Salim Azhar. "Nek Yai Fattah iku ngajine penak. Diwoco peng pisan tapi tempone lambat." kesan Yai Salim.
Berbeda dengan Kyai Amanullah Abdurrahim. Kyai Aman terkenal memiliki gaya tutur yang lincah dan lugas. Oleh karenanya ketika maknani saat mengaji, beliau membacanya cepat tapi diulangi berkali-kali. “Dadi banter tapi dibolan-baleni. Jadi ada gaya tersendiri yai Aman itu”. Yai Salim sendiri pernah ikut ngaji Tafsir & Sahih Bukhari di ndalemnya Kyai Amanullah.
"Kalau adiknya Yai Aman, Yai Nashrullah, beliau ya biasa saja ketika maknani. Tapi ada hal yang membuat saya terkesan dengan beliau." Yai Salim sangat mengenang Kyai Nash dikarenakan Kyai Nashrullah lah yang menjadi pemantik beliau untuk belajar mengi'rob. "Nek mulang Bahasa Arab, pasti senengane ngongkon ngi’rob. Disamping tarjamah, pasti sing diutamakan adalah ngi’rob. Ya dari situ kulo saget ngi'rob." Kenang beliau. Yai Salim juga bercerita kalau dulu ketika masih aktif di Korp Dakwah Tambakberas, beliau sering mengutip syi'ir-syi'r yang biasa di ucapkan oleh Kyai Nashrullah. "Yai Nas itu banyak syiirannya. Bagus-bagus kalo buat syiir, semuanya saya suka apalagi tentang perjuangan." Langsung saja beliau mengingat kembali syi'iran yang biasa diucapkan oleh Kyai Nas. 2 bait yang spontan dinyanyikan Yai Salim saat itu,
وخيرالناس ذو شرف قديم # اقام لنفسه شرفا جديدا
وشر العالمين ذووخمول # إذا فاخرتهم ذكروا الجدودا
Dua bait syi'ir diatas bermakna jangan menggantungkan diri dengan kemuliaan nasab, carilah sendiri kemuliaan itu. Syi'iran ini sangat melekat di ingatan Yai Salim. Vibes semangat yang dibawakan oleh Kyai Nas itulah yang membuat Yai Salim terkesan. “Menurut saya hal seperti itulah yang membuat yai Nas itu terlihat istimewa”. Yai Salim pernah diajar oleh Kyai Nas pelajaran Nahwu kitab Ibnu Aqil di Madrasah dan pernah juga ikut ngaji di ndalem beliau.
Yai Salim juga masih menangi pernah mengaji kitab Fathul Mu'in dengan Kyai Malik. "Kalau Kyai Malik kulo Tasek menangi, lek Kyai Hamid mpun mboten." Tutup beliau.
Masih ada beberapa Kyai lagi yang tidak bisa satu persatu diceritakan Yai Salim sore itu, seperti Kyai Djamaluddin Ahmad, KH Abdul Jalil, dll, mengingat adzan maghrib di masjid sudah berkumandang sore itu. Namun kenangan beliau masih tampak melayang menuju beberapa tahun silam, di mana beliau masih aktif di mana-mana nyantri di bumi Tambakberas.
Membahas tentang bagaimana para Masyayikh Tambakberas dalam mengajar para santri, Yai Salim Azhar berkomentar, "Itulah Tambakberas. Tambakberas itu masing-masing punya keistimewaan tersendiri."
Ditulis oleh: Hubbanaya Hilya Wahda Manaf (Kelas 6B putra) 31-12-2025
Hasil sowan dengan KH Salim Azhar di Ndalem Pondok Pesantren Raudlotut Thullab, Sendangduwur, Paciran, Lamongan.
