MENGHIDUPKAN KEMBALI SUBSTANSI ISLAM

8 Agustus 2012 | Fiqih | Administrator | Dilihat 57 Kali

Agama islam diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW di sebuah masyarakat yang memilikii tradisi yang cukup keras dan tidak menghormati niai-nilai kemanusiaan yang berlaku universal dan dihormati sepanjang jaman. Situasi tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi alam yang sangat keras, gersang dan membutuhkan kerja keras untuk bisa melanjutkan kehidupan.

Tradisi yang sangat keras ditimbulkan oleh kerasnya cara masyarakat di wilayah dimana islam diturunkan, yaitu di kota Makkah dan sekitarnya, dalam memenuhi kebutuhan. Karena itu, tradisi yang sangat keras tersebut merupakan kebudayaan, yang secara definitif diartikan sebagai “Cara manusia dalam memenuhi kebutuhannya”.

Gambaran dan budaya kejam yang tidak menghormati kemanusiaan tersebut salah satunya adalah bagi siapapun yang memiliki bayi perempuan akan dikubur hidup-hidup, karena memiiki anak perempuan dianggap sebaga kecacatan. Penguburan bayi yang baru lahir tersebut merupakan tindakan (tradisi) yang tidak dimiliki oleh semua bangsa manusia saat itu. Hanya bangsa-bangsa yang memang memiliki tradisi kejam dan tidak memiliki rasa hormat terhadap kemanusiaan yang melakukan hal seperti itu. Dan tindakan seperti itu tidak dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa. Mereka menganggap sebagai sesuatu yang wajar.

Contoh lain, orang yang memiliki kekayaan yang lebih, maka dengan sesuka hati akan mengambil perempuan sebagai istri. Tidak hanya empat, tetapi bisa seratus atau bahkan lebih. Serta tidak memendang apakah perempuan-perempuan yang dikawin, satu dengan yang lain, memliki hubungan saudara atau tidak. Bisa satu keluarga dikawin semua dalam satu waktu. Bahkan anak dan ibunya dijadikan istri secara bersamaan.

Paham materialisme saat itu begitu menguasai kehidupan. Siapa yang memiliki harta benda yang berlebih, maka dialah yang palik dihormati dan ditakuti. Nyawa tidak ada artinya, jika berhadapan dengan penguasa modal. Apapun yang diianginkan oleh penguasa modal, maka akan diberikan, begitu kuasanya modal maka orang yang hidup miskin tidak pernah dianggap.
Islam datang dan diturunkan dalam konteks sejarah seperti itu, sebagai antitesa dari semua perilaku yang terjadi pada saat itu. Ketika orang arab, khususnya suku Quraisy, malu jika memiliki anak perempuan, bahkan rela untuk menguburnya hidup-hidup maka islam membawa pesan bahwa, manusia baik laki-laki maupun perempuan adalah sama dihadapan Allah SWT. Tidak ada yang membedakan diantara manusia kecualihanya taqwanya kepada Allah. Dari sini bisa kita lihat bagaimana islam menduduki posisi laki-laki dan perempuan dalam posisi yang sama dan sederajat. Kerena itu memiliki anak, baik laki-laki maupun perempuan sama saja.

Untuk menjawab perilaku bangsa arab laki-laki yang doyan kawin perempuan sampai ratusan jumlahnya, maka islam menjawab dengan tegas bahwa, umat islam hanya diperbolehkan menikahi perempuan sampai empat. Itupun dengan syarat yang begitu ketat, yaitu jika mereka mampu berbuat adil diantara mereka. Jawaban islam ini, pada jamannya merupakan terobosan yang sangatt revolusioner. Bisa kita bayangkan, orang yang hidup dangan seratus istri bahkan lebih, kemudian dalam waktu sekejap mereka harus mengubah gaya hidupnya dengan hanya beristri empat.

Sedangkan untuk menghindari penumpukan modal (materi) yang berlebihan yang diakibatkan oleh paham kebendaan, serta untuk menumpuk solidaritas antar manusia, maka islam datang dengan mengeluarkan zakat dari harta yang telah lebih dari nishabnya. Paham kebendaan yang menjadi pendorong bagi penumpukan modal dan menganggap modal adalah segala-galanya menghasilkan manusia-manusia sangat berkuasa dan selalu khawatir jika modal yang dimiliki jatuh ke orang lain, sehingga selalu menaruh curiga pada yang lain. Karena itu wajar jika orang-orang seperti ini akan menghitung apapun berdasarkan modal yang dimiliki, bahkan nyawapun tidak ada harganya jika dihadapkan dengan modal. Inilah yang akhirnya mengakibatkan solidaritas (taawun) diantara mereka tidak ada.

Secara garis besar, islam diturunkan oleh Allah SWT kepada manusia pilihannya Nabi Muhammad SAW untuk diajarkan kepada manusia di muka bumi ini adalah sebagai jawaban atas kondisi yang terjadi di bumi. Islam diturunkan untuk menyelesaikan berbagai persoalan di muka bumi dan turunnya dipilih berada di tepat yang pali kejam dan tidak manusiawi di muka bumi, kerena itu, Allah SWT mengutus manusia pilihannya yang sangat lembut, terpercaya, berani menyampaikan dan memiliki kecerdasan. Bahkan kelembutan Nabi Muhammad SAW, dalam gambaran di maulid diba’ terasa lebih lembut dan dan halus daripada bangsa jawa sekalipun, yang terkenal sangat halus dan bertutur dalam bertingkah.

Selanjutnya, jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, khususnya di Indonesia , maka bisa diambil pelajaran bahwa, dalam kondisi dimana perilaku koruptif dan faham kebendaan mengambil tempat yang cukup luas, maka dibutuhkan antitesa untuk menyelesaikannya. Antitesa yang bisa digunakan adalah apa yang telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. karena apa yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sampai saat ini masih sangat aktual.


Muallimin Mualimat 6Tahun Tambakberas Jombang MENGHIDUPKAN

blog comments powered by Disqus