Cerita Dari Kegiatan Baksos Siswa

13 Juni 2019 | Ruang Siswa | Admin | Dilihat 369 Kali

Muallimin Online,
Live in (hidup) di tengah-tengah masyarakat yang selama ini belum dikenal, dengan suasana dan kondisi yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan sehari-hari selama ini, cukup dirasakan oleh Kilmah Azzatna, siswi kelas 4 Madrasah Muallimin Muallimat 6 Tahun Bahrul Ulum, saat mengikuti kegiatan Bakti Sosial (Baksos) di desa Pojoklitih kecamatan Plandaan Jombang pada akhir bulan Mei 2019.
 
Kilmah adalah satu dari 35 siswi yang menjadi peserta Baksos, yang rata-rata masih berumur sekitar 17-18 tahun. Mereka live in di desa Pojoklitih selama 6 hari, mulai Jumat (24/05/2019) sampai Rabu (29/05).
 
Mereka secara mandiri menyiapkan semua kebutuhan Baksos, termasuk membuat rencana, membagi peserta dan menyusun pembagian kerja, tentu dibantu pembina dari Madrasah.
 
Kilmah merasakan bagaimana masyarakat desa bergelut dalam bidang ekonomi, yang berbeda dengan kehidupan yang selama ini dia alami, baik pondok maupun di rumah. "Kami pagi-pagi pergi ke ladang untuk melihat dan membantu warga melakukan kegiatan menanam dan merawat tanaman mereka," lanjutnya.
 
"Itu pengalaman yang paling mengesankan menurut saya. Karena di rumah, kami tidak akan merasakan yg seperti itu," kata siswi yang sekarang menginjak kelas 5 tersebut.
 

Adapun kegiatan-kegiatan utama yang Kilmah dan teman-temannya lakukan saat Baksos, antara lain melakukan bimbingan Taman Pendidikan al Quran, bimbingan ibadah di Musholla dan Masjid, dan melakukan kegiatan pembinaan ke anak-anak, serta menyelenggarakan lomba-lomba.

Meskipun Kilmah dan teman-temannya hanya 6 hari hidup di tengah masyarakat desa, mereka tentu sudah bisa merasakan bagaimana dinamika  kehidupan sosial-budaya, ekonomi dan mungkin juga politik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
 
Dari sini, sebagaimana yang telah dibicarakan dalam sesi pembekalan sebelum berangkat Baksos, pengetahuan akan dinamika sosial budaya, ekonomi dan politik di tengah masyarakat merupakan bekal awal dalam berdakwa di masyarakat. Sehingga sebagai seorang da'iat, terutama yang bergerak dalam medan dakwah bil ahwal, mereka mampu menggerakkan masyarakat untuk menyelesaikan berbagai persoalan di masyarakat.
 
Sementara dalam tahapan pelaksanaan Baksos, seperti yang didiskusikan dalam pembekalan, yang menentukan dalam Baksos, dan kegiatan pengorganisasian lainnya, adalah tahap integrasi. Tahap penyatuan dengan warga masyarakat. Dalam tahap ini, rupanya sudah cukup upaya yang dilakukan peserta Baksos. Mereka menyapa warga dengan mengunjungi rumah secara door to door. Memperkenalkan diri dan menyampaikan kegiatan yang akan dilakukan.
 
Menurut Kilmah, proses integrasi memang merupakan proses yang paling berat. "Untuk proses integrasi, mungkin bisa d bilang sulit. Tapi di sini kami hanya mampu berperan untuk terus menyapa dan mengajak warga untuk mengikuti kegiatan yang sudah ada atau kegiatan yang kami rencanakan," terangnya.
 
"Maka dari itu, setiap sore setelah mengajar TPQ, sebagian dari kami berkeliling untuk menyapa warga, anak muda, dan anak-anak. Agar tertarik, kami buat kultum diisi dengan lagu sholawat yang nadanya bisa mudah ditiru oleh ibu-ibu, anak muda, dan adik-adik. Alhamdulillah, dengan begitu yang mengikuti kegiatan bisa bertambah," lanjutnya.
 
Harapan dari Madrasah, Baksos bisa menjadi ajang latihan bagi siswa siswi untuk berlatih dalam dakwah, baik bil aqwal maupun yang lebih penting bil ahwal. Meskipun sebagai ajang latihan, Baksos bisa menjadi ajang dakwah yang sesungguhnya bagi siswa dan siswi.
 
Baksos pada tahun ini juga dilakukan oleh siswa Muallimin dengan wilayah yang berbeda. Untuk anak putra, lokasi Baksos di desa Sumberjo kecamatan Wonosalam dengan durasi waktu selama satu minggu. [ma]

Baksos Pojoklitih Plandaan Muallimin Wonosalam

blog comments powered by Disqus