Sholat Sunnah Ada Dua Pembagian


Sholat sunnah (sholat al nafl) menurut Saikhul Islam Muhyidin Abu Yahya Zakariya al Anshori (w 925 H) terbagi menjadi dua, yaitu: (1) sholat sunnah yang tidak disunnahkan berjamaah dan; (2) sholat sunnah yang disunnahkan berjamaah.

Pendapat Imam Abu Yahya Zakariyah al Anshori yang dituliskan dalam kitab Fathul Wahab ini, didukung Syech Zainudin al Malibary (w 972 H) yang mendokumentasikan pendapatnya dalam kitab Fathul Muin.

Bahkan dalam membuka diskusi tentang sholat sunnah ini, Syech Zainudin membicarakan panjang lebar tentang sholat sunnah. Menurutnya, secara etimologis al naflu (sunnah) bermakna tambahan (al ziyadah). Sedangkan secara terminologi syara’, al naflu (sunnah) berarti mendapat pahala jika dikerjakan, dan tidak masalah (tidak mendapat ancaman sangsi hukuman) jika ditinggalkan.

Lebih lanjut Syech Zainudin menyampaikan bahwa, term al naflu juga biasa disampaikan (ditulis) dengan term tathawu’, sunnah, mustahab dan mandub.

Dari sisi pahala, melaksanakan sholat sunnah, pahalanya jauh di bawah melaksanakan sholat fardlu. Syech Zainudin mengatakan pahala sholat fardlu lebih utama 70 (tujuh puluh) derajat daripada sholat sunnah. Hal ini sesuai dengan Hadist Nabi SAW yang diriwayatkan Ibn Huzaimah.

Terkait dengan dua pembagian, diutarakan sebagai berikut: Sholat sunnah yang tidak disunnahkan berjamaah, adalah sholat sunnah rawatib (sholat sunnah yang mengikuti sholat fardlu), yang menurut Syech Zakariyah al Anshori ada dua, yaitu sholat rawatib muakkad (yang dikuatkan), yang terdiri dari sholat 2 rakaat sebelum Shubuh, 2 rakaat sebelum dan sesudah Dluhur, 2 rakaat setelah Maghrib, 2 rakaat setelah Isyak dan sholat Witir setelah Isyak. Namun, sholat Witir yang dilakukan pada bulan Ramadhan disunnahkan berjamaah.

Selain itu ada sholat rawatib ghoiru muakkad yaitu tambahan 2 rakaat sebelum dan sesudah Dluhur, 4 rakaat sebelum Ashar, 2 rakaat cepat sebelum Maghrib.

Sedangkan sholat sunnah yang disunnahkan berjamaah antara lain sholat Id, sholat gerhana bulan dan matahari, sholat Istisqo, sholat Tarawih.

Dari sisi keutamaannya, bagian yang kedua ini (sholat sunnah yang disunnahkan berjamaah) lebih utama daripada bagian yang pertama (yang tidak disunnahkan berjamaah). Tetapi sholat sunnah rawatib lebih utama daripada sholat Tarawih.

Jika diurutkan, sholat sunnah yang paling utama adalah sholat Id, kemudian sholat gerhana matahari, gerhana bulan, sholat Istisqo, sholat Witir, 2 rakaat Fajar, selanjutnya sholat rawatib, Tarawih, kemudian sholat yang terkait dengan ibadah lain, misalnya 2 rakaat Thawaf, Ihram dan Tahiyat Masjid, sholat sunnah wudlu dan sholat sunnah mutlaq. (ma)

Be Sociable, Share!