Perpustakaan Alexandria: Apa Benar Khalifah ‘Umar yang Membakarnya?


Oleh: H. Muhyiddin, Lc., MM
(Kepala Perpustakaan Madrasah Mu’allimin Mu’allimat 6 Tahun)

Selepas sarapan pagi dengan Esy, Tha’meyyah, full, salad dan Tahinah saya berangkat menuju Alexandria dengan jarak sekitar 220 km dari Cairo. Bus membawa saya melintasi jalan padang pasir (Thariq Shahrawi) decak kagum saya melihat pemandangan sepanjang jalan ternyata sudah disulap menjadi lahan pertanian. Sepanjang mata memandang “sawah padang pasir” itu tampak hijau, mulai dari tanaman pisang, anggur, mangga, bawang merah, jeruk, zaitun dan lain-lain.

3,5 jam perjalanan akhirnya saya sampai di gerbang kota Alexandria. Di kota itu, saya berkesempatan ziarah ke Makam Sahabat “Uwaimir bin ‘Amir (Abu Darda’), Nabi Danial, Lukmanul Hakim, dilanjutkan Shalat Jum’at di Masjid Imam Abul Abbas Al Mursi dan ziarah ke makamnya, dilanjutkan ke Makam Imam Syarafuddin al Bushiri (Pengarang Shalawat Burdah).

Kemudian sejenak “menikmati” indahnya Istana El-Montazah dan lingkungan di sekitarnya sekitar satu jam, bus “Trigilz Travel” yang saya naiki beserta Bapak Khoirul Anam dan rombongan Alumni Madrasah Mu’allimin Mu’allimat 6 Tahun Tambakberas serta beberapa Alumni dari Bahrul ulum lainnya yang sedang kuliah di al Azhar Mesir meneruskan perjalanan menuju arah Perpustakaan Alexandria (Bibliotheca Alexandrina), dalam perjalanan menuju Benteng Qait Bey yang terletak di Distrik Al-Anfusyi.

Keluar dari area Istana Montaza, Bus membawa kami dan rombongan menyusuri kota eksotik di sepanjang pantai Mediterania membentang 20 km, Tak lebih dari setengah jam kemudian, bus itu pun berhenti di tepi Al-Geish Avenue yang terdiri dari sepuluh jalur. Di sisi kanan jalan, Laut Mediterania sedang “bermain-main” tanpa henti. Sedangkan di sisi kiri jalan, tegak sebuah bangunan berbentuk silinder miring. Itulah gedung baru Perpustakaan Alexandria yang terletak di pusat Kota Alexandria.
“Aneh bentuk gedung itu!” demikian gumam saya begitu melihat bentuk bangunan perpustakaan yang diresmikan pada Sya‘ban 1423 H/Oktober 2002 itu menjadi perpustakaan terbesar ke-4 di dunia. Gedung itu berdiri di dekat situs semula Perpustakaan Alexandria lama yang didirikan pada awal abad ke-3 SM di masa pemerintahan Ptolemeus II, selepas ayahnya mendirikan kuil Muses, Musaeum. Konon, perpustakaan itu memiliki 500.000 gulungan papirus. Sebagai perbandingan, pada abad ke-14 M, Perpustakaan Sorbonne, Paris, Perancis yang katanya memiliki koleksi terbesar di zamannya hanya memiliki 1.700 buku.

Para penguasa Mesir kala itu begitu bersemangat untuk memperbanyak koleksi mereka. Sampai-sampai mereka memerintahkan para prajurit untuk menggeledah setiap kapal yang masuk guna memperoleh naskah. Jika ada naskah yang ditemukan, mereka menyimpan yang asli dan mengembalikan salinannya. Dan, kala itu, seperti telah dikemukakan di muka, perpustakaan tersebut menjadi “tempat kerja” sederet cendekiawan kelas dunia yang menghasilkan karya-karya besar di bidang geometri, trigonometri, astronomi, bahasa, kesusastraan, dan kedokteran.

Sementara bentuk bangunan baru Perpustakaan Alexandria, yang dirancang Snøhetta, sebuah biro arsitektur Norwegia, dibagi secara diagonal dan berdiri dalam bentuk silinder yang ditusuk sebuah garis lurus. Garis lurus yang menusuk bentuk silinder perpustakaan tersebut tak lain adalah jembatan penyeberangan dari Universitas Alexandria ke selatan. Jembatan tersebut membentang di atas jalan dan menuju ke arah lantai dua perpustakaan dan terus ke plaza di sebelah utara gedung yang mengarah ke laut.

Di sebelah barat jembatan tersebut, sebagian besar bangunan berbentuk silinder menukik hingga menciptakan ruang kosong yang merupakan pintu masuk utama perpustakaan. Sedangkan pintu masuk perpustakaan menghadap pintu depan sebuah gedung pertemuan tua, seakan menunjukkan penghormatan terhadap gedung tersebut. Di antara kedua gedung tersebut terdapat plaza yang dihias dengan jalanan batu. Di dalam plasa itu sendiri terdapat area yang sangat luas untuk planetarium, mirip dengan planetarium di Taman Pintar Jogjakarta.
Bangunan berbentuk silinder dipotong oleh sudut miring. Semua dinding miring tersebut menunjuk ke utara, ke arah Laut Mediterania. Sedangkan dinding yang menghadap selatan dari bagian silinder dihias dengan potongan batu granit yang merupakan pecahan batu yang sangat besar, bukan digergaji. Permukaannya tak rata, dengan garis bentuk yang halus. Batu-batu granit tersebut ditulisi dengan simbol huruf dari seluruh dunia. Sinar matahari dan pantulan lampu di perbatasan air menghasilkan bentuk bayangan dinamis dari simbol-simbol tersebut, yang mengingatkan pada dinding tempat beribadah zaman Mesir kuno. Dinding melengkung tebuat dari beton dengan sambungan vertikal terbuka, sementara dinding yang lurus dihias dengan batu hitam dari Zimbabwe.

Memandangi bangunan baru Perpustakaan Alexandria tersebut, saya beberapa lama tercenung dan kemudian bergumam, “Kapan Jombang memiliki perpustakaan seperti Perpustakaan Alexandria ini?” ahh..Mungkin tidak penting bagaimana bangunan itu ada, yang terpenting adalah bagaimana memaksimalkan peran dan fungsi perpustakaan sebagai center of science, research and knowledge.

Tiba-tiba, Segera saya teringat kembali tuduhan terhadap Khalifah ‘Umar bin Al-Khaththab bahwa ia telah memerintahkan Gubernur Mesir ‘Amr bin Al-‘Ash, ketika menundukkan Alexandria pada 21 H/640 M, supaya membakar Perpustakaan Alexandria lama.

Benarkah demikian?
Ternyata, tuduhan terhadap Khalifah ‘Umar bin Al-Khaththab tersebut merupakan tuduhan yang tak berdasar sama sekali. Mengapa demikian? Ini karena Perpustakaan Alexandria lama tersebut, seperti telah dikemukakan di muka, telah lama sirna sewaktu Julius Caesar membakar sebagian kota itu pada tahun 48 SM. Kemudian, ketika perpustakaan tersebut dibangun kembali dalam ukuran yang lebih kecil, perpustakaan itu pun lenyap akibat gempuran Kaisar Theodosius I pada 391 M. Karena itu, ketika Gubernur Mesir ‘Amr bin Al-‘Ash menaklukkan Alexandria pada 21 H/640 M, perpustakaan tersebut sudah tiada lagi puing-puingnya. Hal itu dikuatkan oleh tidak adanya catatan dari para sejarawan terpercaya pada masa itu, tentang terjadinya pembakaran perpustakaan tersebut oleh ‘Amr bin Al-‘Ash.

Demikian halnya para sejarawan Muslim yang sangat dapat dipercaya, seperti halnya Al-Ya‘qubi, Al-Baladzuri, Ibn ‘Abd Al-Hakam, Al-Thabari, Al-Kindi, Ibn Al-Atsir, Ibn Taghribirdi, dan Al-Sayuthi tak pernah sama sekali mengemukakan dan menulis masalah pembakaran perpustakaan tersebut.
Tuduhan pertama terhadap Khalifah ‘Umar bin Al-Khaththab, sebagai orang yang memerintahkan pembakaran Perpustakaan Alexandria lama, mencuat dan populer gara-gara tulisan tanpa acuan dan rujukan sama sekali yang dikemukakan ‘Abdul Lathif Al-Baghdadi, seorang ahli astronomi dan dokter yang lahir pada 1162 M dan berpulang pada 1231 M di Baghdad. Menurut catatan ilmuwan yang sezaman dengan Maimonides serta pernah melakukan perjalanan lama ke Mosul, Damaskus, dan Mesir tersebut, di Kota Alexandria terdapat sejumlah pilar dan bidang kosong yang mengelilinginya.

Menurutnya, di situlah Aristoteles mengajar murid-muridnya dan di situ pulalah Alexander Agung mendirikan perpustakaannya. Dan, di situ pulalah terdapat sebuah perpustakaan yang dibakar ‘Amr bin Al-‘Ash atas perintah Khalifah ‘Umar bin Al-Khaththab.
Catatan itu kemudian di“viral-kan” seorang sejarawan pada masa itu, Abu Al-Faraj bin Harun Al-Ibri (Uskup Gregory Bar Hebræus). Berdasarkan catatan tanpa pijakan ilmiah kuat itulah “legenda pembakaran Perpustakaan Alexandria oleh ‘Umar bin Al-Khaththab” kemudian dikutip oleh Edwards Gibbon dalam karyanya The Decline and Fall of the Roman Empire dan Rene Sedillot dalam karyanya The History of the World yang menyatakan bahwa “warisan kebudayaan Islam terhadap kebudayaan manusia adalah pembakaran perpustakaan dan penebangan hutan tanpa sejengkal tanah pun yang ditanami”.

Kutipan yang sangat menyedihkan! Dari sinilah “propaganda dugaan pembakaran perpustakaan” tersebut oleh Khalifah ‘Umar bin Al-Khaththab tersebar dan menjadi viral ke berbagai penjuru dunia. Padahal, Khalifah ‘Umar bin Al-Khaththab tak pernah sama sekali melakukan tindakan keji dan tak beradab tersebut! Padahal, jika kita cermati sejenak sejarah ketika Fathu Masri ‘Amr bin Al-‘Ash Bersama 4000 pasukan yang disambut orang-orang Mesir dengan suka-cita, gembira atas kedatangan umat Islam, maka hal itu dikarenakan mereka mengetahui keadilan, kasih sayang umat Islam dan mereka akan segera bebas dari kezaliman dan sifat kasar orang-orang Romawi. ‘Amr bin al-‘Ash berkata kepada penduduk Mesir, “Wahai penduduk Mesir, sesungguhnya Nabi kami telah mengabarkan bahwa Allah akan menaklukkan Mesir untuk umat Islam, dan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mewasiatkan kami agar berbuat baik kepada kalian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا افْتَتَحْتُمْ مِصْرَ فَاسْتَوْصُوا بِالْقِبْطِ خَيْرًا؛ فَإِنَّ لهُمْ ذِمَّةً وَرَحِمًا

‘Jika kalian menaklukkan Mesir, maka aku wasiatkan agar kalian berbuat baik kepada orang-orang Qibthi ini. Mereka berhak atas perlindungan dan kasih sayang’.” (HR. Muslim no.2543).

Oleh sebab itu, Gubernur ‘Amr bin al-‘Ash membangun pusat pemerintahan dan membangun Masjid di Fusthath Cairo di tengah-tengah perkampungan Kristen koptik/Qibthi, Masjid inilah yang saat ini dikenal dengan nama Masjid ‘Amr bin ‘Ash yang merupakan Masjid pertama dibangun di Benua Afrika pada tahun 21 H/ 641 M dan letaknya bersebelahan dengan Gereja Qibthi Magirgis atau dikenal dengan sebutan Gereja Gantung (el-Mu’allaqo) yang sudah ada dan dibangun jauh sebelum Gubernur ‘Amr bin al-‘Ash membangun Masjid tersebut. Tidak heran, jika Presiden Soekarno selama menjabat sebagai Presiden berkunjung ke Mesir sebanyak enam kali, maka dugaan saya, Presiden Soekarno membangun Masjid Istiqlal bersebelahan dengan Gereja Catedral terinspirasi oleh Gubernur ‘Amr bin ‘Ash.
Wallâhu a‘lam bi al-shawâb.

Alexandria, 16/02/2018

Be Sociable, Share!