Perbedaan Awal Bulan Ramadhan

Muallimin Online,
Allah menjadikan matahari bercahaya dan memancarkan cahaya di planet lain sehingga terus ke bulan dan ia juga turut bercahaya dan ini adalah kebesaran Allah SWT yang kita harus mengkajinya. Fungsinya apa? Fungsinya menentukan segala hitungan waktu, hitungan jam, dan hitungan awal bulan dan ini bisa jadi sebuah qoidah yg di namakan falaq yg bisa menentukan awal bulan.

Matahari dan bulan sangat berpengaruh, begitu juga dengan manzil-manzil yang menentunkan awal bulan seperti Muharram, Sya’ban, Ramadhan dan lain-lain. Apabila sudah akhir bulan maka terjadi ijtima’ yg terkadang kelihatan dan tidak kelihatan. Berkiatan dengan hal ini, dibicarakan dalam kitab Sullamun Nayyirain.

Mengenai masalah hisab itu bagaimana? kita balik lagi ke proses matahari dan bulan. Coba kita renungkan dan perhatikan proses matahari yang bisa cerah dan bulan yang bisa gelap dan, proses itu secara rutin/konstan dan tidak pernah berhenti dan berputar terus maka tidak mustahil untuk menghisab awal bulan yang kita inginkan.

Berkaitan dengan hisab inilah terjadi perbedaan di antara Ormas keagamaan. Apakah mereka salah? pasti tidak, karena mereka mengambil pedoman atau dasar dari Al-quran maupun Hadits. contohnya Muhammadiyyah, mereka menggunakan hisab yg disebutkandi dalam Al-quran untuk menentukan awal bulan, sedangkanNahdhatul Ulama’ menggunakan ru’yah dengan berpedoman Hadits shohih Nabi Muhammad SAW: “(pada akhir sya’ban) apabila kamu melihat hilal maka kamu besok harus berpuasa kalau tidak genapkanlah 30 hari sya’ban”.

Nahdhatul ulama’ mengharuskan ru’yah seperti yg di katakana oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari di kitab Risalah Ahlussunah Wal Jama’ah, tapi kalau tidak bisa lihat hilal maka menggunakan hisab.

Untuk Ramadhan tahun 1435 H ini ada perbedaan, di sebabkan ru’yah-nya tidak bisa dilakukan dengan sempurna walaupun cuacanya tidak mendung. Sulit untuk menentukan bulan Ramadhan dengan ru’yah, karena itu dalam menentukan awal bulan menggunakan hisab.

Mengenai keputusan awal bulan Ramadhan, siapakah yang layak untuk memutuskan? yang layak memutuskan adalah hakim (faa’ilu hakim). Karena itu yang layak untuk memutuskan adalah Menteri Agama. Ini di namakan nisbat.

Pada tahun ini puasa Ramadhan di Indonesia dilakukan bersama-sama dengan negeri tetangga, seperti Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura, bahkan sama dengan Negara Timur Tengah. Selanjutnya untuk Hari Raya Idul Fitri yang akan datang atau 1 Sawal kemungkinan akan dilakukan secara bersamaan. (wawancara dengan KH Mujib Adan)

Add a Comment