Metode Belajar Kitab Kuning Di Muallimin


Muallimin Online,
Di Madrasah Muallimin Muallimat 6 Tahun Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, kegiatan pembelajaran kitab kuning dilakukan dengan menggunakan beberapa metode, yang juga digunakan hampir di semua pondok pesantren, terutama pondok pesantren salaf yang bertradisi An-Nahdliyah (Nahdlatul Ulama).

Metode-metode tersebut dijalankan sejak ratusan tahun yang lalu, dan sampai sekarang masih cukup efektif digunakan dalam menjalankan proses belajar di Madrasah Muallimin Muallimat. Semua guru yang mengajar dengan buku pegangan kitab kuning pasti menggunakan salah satu dari metode tersebut. Kitab kuning tersebut berisi materi fiqh, tauhid, hadist, tafsir, ahlaq, nahwu, shorof dan lain sebagainya.

Metode-metide tersebut antara lain bandongan, sorogan, weton, musyawarah dan praktek. Secara keseluruhan siswa siswi memberikan makna (arti) dengan huruf pegon (Arab-Jawa), yang ditulis di bawah huruf (kalimat) Arab yang rata-rata tanpa harokat.

Di pesantren, ada beberapa metode yang biasa digunakan oleh kyai atau guru dalam melakukan pengajaran kitab kuning dengan Arab pegon. Meskipun dalam salah satu metode, siswa siswi diminta membaca kitab kuning, yang tanpa harokat dan makna (arti) di bawahnya.

Metode pertana: Bandongan. Metode ini merupakan metode yang paling banyak digunakan. Metode ini juga sering disebut dengan metode weton.
Pengajaran dengan netode ini lebih mirip dengan sistem klasikal. Dalam metode ini, guru/kiyai membacakan kitab kuning, sementara siswa/siswi mencatat arti/makna setiap kata/kalimat. Setelah membaca beberapa baris dalam satu tema atau bahasan, guru menerangkan maksud dari kalimat yang telah diberi makna satu-satu, terutama menjelaskan susunan kalimat yang sulit dipahami.

Metode kedua: Sorogan. Metode ini kebalikan dari bandongan. Kalau dalam metode bandongan guru yang aktif memberikan makna dan penjeleasan kandungan kalimat dalam kitab kuning, maka dalam metode sorogan ini, siswa/siswi yang aktif membaca dan menjelaskan kandungan kitab kuning. Guru dalam hal ini menyimak bacaan siswa dengan memperhatikan kebenaran bacaan menurut kaedah dalam Nahwu dan Shorof.

Dalam metode ini, ada diskusi antara siswa/siswi dan guru tentang murod (maksud yang dikehendaki) dalam kitab kuning. Kelancaran membaca kitab kuning siswa akan ter-asah dalam metode ini.

Metode yang ketiga: musyawarah dan bahtsul masail. Metode ini dilakukan dengan membahas kitab kuning dari sisi susunan kalimat dan makna (murod)-nya kitab khning yang diikuti oleh siswa/siswi dengan guru pembimbing sebagai pengawas.

Metode yang terakhir: tamrinah (praktek). Siswa/siswi dengan bimbingan dari guru mempraktekkan apa yang telah dipelajari. Misalnya, setelah belajar bab wudlu dan sholat, siswa/siswi diajak praktek wudlu dan sholat sesuai dengan tuntunan dalam kitab kuning (fiqh). (ma)

Add a Comment