Menahan Diri dan Memaafkan

Muallimin Online,
Saat mengisi pengajian Tamassaktum Minggu malam di Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang (31/7/2016), KH Lukman Hakim, staf pengajar Madrasah Muallimin Muallimat Enam Tahun Bahrul Ulum, berharap agar setelah Ramadan ada peningkatan ibadah dan takwa.

Tanda takwa itu sendiri ada empat. Sebagaimana disebut dalam QS Ali Imron 133-134. Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit[1], dan orang-orang yang menahan amarahnya[2] dan mema’afkan (kesalahan) orang lain[3]. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan[4].

“Gampangnya, ngempet, ngapuro dan ngapiki (menahan diri, memaafkan dan membaiki)”, tuturnya.

Dia lantas bercerita, suatu ketika, Imam Hasan Albasri pernah dirasani orang. Lalu ada yang melaporkan hal itu kepada Imam Hasan. Imam Hasan lantas mengambil sekeranjang kurma. Kemudian menitipkannya kepada si pelapor agar diberikan kepada orang yang ngerasani. “Sampaikan terima kasihku kepadanya karena dia telah mengambil dosa-dosaku”, ucap Imam Hasan. Itulah yang disebut ngapiki. Sebab orang yang ngerasani hakikatnya mengambil dosa-dosa orang yang dirasani. Jadi mestinya harus berterimakasih.

“Kalau kita ngapiki, maka pasti disenengi”, bebernya.
Nah, untuk hubungan dengan Allah, agar dekat, maka kita harus melaksanakan hal-hal yang wajib. “Itu untuk dekat. Tapi untuk disenengi Allah, kita harus menambah dengan amalan-amalan sunah”, sarannya.

Add a Comment