Tafakkur: Melihat Kebaikan Dan Keburukan Dengan Mata Hati


Dalam pengertian sederhana, tafakkur bisa diartikan seabagai refleksi atau perenungan terhadap terhadap sesuatu. Akar dari segala yang maujud adalah nama-nama Allah Yang Mahaindah, karenanya, tafakkur berkaitam dengan nama-nama Allah, bukan Dzat-Nya.
“Tafakkaruu fii khalqillah, wa la tafakkaru fi dzatillah, fainnakum la taqdurunna qudratahu”. (Renungkanlah ciptaan Allah, jangan renungkan Dzat-Nya, karena sesungguhnya kamu tak akan mampu mengukur kekuasaan-Nya.)

Dalam Al Quran Allah memberitahukan, bahwa Dia mempunyai nama-nama Yang Paling Indah. Inilah nama-nama Kesempurnaan (kamal)-Nya yang mencakup keagungan (jalal) dan Keindahan (jamal). Dalam perjalanannyamenuju Allah, seorang salik mesti berusaha berakhlaq dengan sifat-sifat Allah yang diungkapkan dalam nama-namaNya Yang Paling Indah. Dalam belajar berakhlaq dengan sifat-sifat Allah yang diungkapkan dalam asma-asmaNya inilah – tafakkur menduduki posisi penting daripada ibadah mahdlah.

Tafakkur pada awalnya adalah merupakan perenungan atas segala ciptaan Allah, baik yang buruk maupun yang bagus. Kenapa Allah menciptakan jenis makhluk yang jika diamati secara sekilas seperti tidak ada manfaatnya? Kenapa Allah menciptakan keburukan dan kebagusan? Kenapa Allah menciptakan kejahatan dan kebaikan? Dst..

Sesungguhnya, saat Allah menciptakan keburukan dan kejahatan – Allah ingin menampakkan sifat “jalal”Nya, dan ketika Allah menciptakan kebagusan dan kebaikan – Allah ingin menampakkan sifat “jamal”Nya.
Apakah tafaakkur dalam suluk itu justru berbanding terbalik dengan tafakkur dalam pengertian umum? Yakni mengosongkan pikiran (meditasi)?.

Ketika pikiran menguasai hati, maka di situlah awal perselingkuhan ruhani. Sang jiwa akan sulit melihat dan memahami sesuatu dengan menggunakan pandangan Allah (sifat / asma Allah). ini akan menjadi sebaliknya jika pikiran dikendalikan oleh hati (bashirah).

Maka, saat melihat suatu kejahatan, yang terlihat bukanlah kejahatannya, tapi sifat “jalal” Allah. Pun saat melihat suatu kebaikan, yang terlihat bukanlah bentuk kebaikan tersebut, tapi sifat “jamal” Allah. Dengan sifat jalalNya, Allah bisa saja menyesatkan siapa yang ingin disesatkan. Dan dengan sifat jamalNya, Allah bisa saja memberi petunjuk kepada siapapun yang ingin diberi petunjuk. Disinilah kemudian muncul pengosongan fikiran kita, pengosongan atas penilaian atas sesuatu secara dangkal, hingga tidak mudah menghakimi dan melabelkan sesuatu yang hanya kita ketahui sebagian.

Suatu ketika seorang pelacur mendatangi Kiai Shaleh Qasim untuk meminta doa penglarisan atas “dagangannya”, sang kiai tidak menolaknya. Beliau melihat dengan pandangan bashirahnya, yang terlihat bukan pelacurnya, tapi campur tangan Allah yang mentakdirkan orang tersebut menjadi pelacur serta menuntunnya untuk datang kepada beliau. Beliaupun mendoakan pelacur tersebut. Sampai akhirnya pelacur tersebut datang kembali kepada kiai mengeluhkan dirinya yang sudah tidak kuat menjalani profesinya karena saking “laris”nya. Ia pun bertobat di hadapan kiai.

Juga saat seorang kiai di sebuah pesantren, melarang santrinya menyebut santri yang ketahuan mencuri sebagai pencuri. Katanya: “Ora onok santri sing nyolong, dewek’e mung nyelang ora taren.”

Ucapan yang terlihat sepele tersebut, membawa sentuhan magis bagi si santri yang mencuri, ia merasa dimanusiakan sehingga muncul hasrat dan keinginan untuk berubah menjadi baik serta memperbaiki diri.

Sikap dan dawuh kiai tersebut mengajarkan bahwa manusia harus dipahami dengan kasih sayang (menggunakan asma/sifat Rahman Rahim-Nya). Siapapun orangnya berhak mendapatkan pengampunan dan kesempatan untuk menjadi lebih baik selama hidupnya. Jangan mudah memberi label salah, sesat, dan jahat kepada seseorang. Bisa jadi beberapa tahun kemudian, mereka menjadi orang yang baik. Mereka hanyalah orang yang sedang berproses untuk menjadi lebih manusia. Dari yang jahat menjadi sedikit jahat; dari yang baik menjadi lebih baik, dan seterusnya.

Ini tentu berbalik dengan pola pikir yang masih tersandera oleh nafsu amarah. Saat melihat keburukan yang muncul adalah rasa jijik dan benci, saat melihat wanita cantik, yang muncul adalah syahwat. Tanpa melihat dan memahami, bahwa dalam ciptanNya – selalu ada asma-asma Allah yang ingin Dia tampakkan. []

Wallahu A’lam…

Oleh: A. Jabbar Hubbi, Guru Madrasah Muallimin Muallimat 6 Tahun Bahrul Ulum

Be Sociable, Share!