LAZISNU Membantu Menghapus Rentenir

Bertempat di sebuah rumah yang berada tepat di samping musholla di dusun Wonosari Jatirejo Diwek Jombang, pada petang habis Maghrib, Senin (20/02), sekitar 25 orang perempuan berkumpul.

Meskipun hujan lebat mengguyur dusun tersebut sepanjang sore dan terlihat air yang datang dari hamparan sawah yang mengepung dusun meluber ke mana-mana, namun para perempuan yang berkumpul agak berdesakan tersebut masih terlihat bersemangat mengikuti pertemuan.

Mereka para perempuan yang memiliki latar belakang buruh tani, guru swasta di desa tersebut, wlijo (penjual keliling) dan ibu rumah tangga adalah anggota pra-koperasi Assyafi’iyah. Sebuah organisasi ekonomi yang digagas dan didirikan sejak setahun yang lalu. Untuk menjalankan fungsi pra-koperasi, yang tidak hanya melulu persoalan ekonomi, mereka secara rutin mengadakan pertemuan setiap bulan.

Gagasan pendirian koperasi di dusun yang berada tepat di sebelah barat Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Paculgowang Jatirejo Diwek, dan sekitar 2 Km dari Pesantren Tebuireng tersebut dilatarbelakangi oleh banyaknya anggota masyarakat di dusun tersebut yang terjerat oleh praktek rentenir. Serta sulitnya mengakses modal dari lembaga-lembaga keuangan yang ada di wilayah tersebut.

Seperti halnya yang disampaikan oleh Kasiyatun, buruh tani, salah satu anggota koperasi Assyafi’iyah, bahwa dia merasa dipersulit jika mengajukan pinjaman ke lembaga keuangan yang ada di wilayahnya.

“Ewet sanget syaratipun pak…macem-macem syarat ingkang dipun suwun. Tiyang kados kulo mboten saget menawi mekaten…” (Sangat sulit syaratnya pak… macam-macam syarat yang diminta. Orang seperti saya tidak bisa kalau seperti itu), kata Kasitaun menjelaskan tentang sulitnya mengakses kredit.

Menurut penjelasan ketua pra-koperasi tersebut, Imroatus Zakiyah, koperasi Assafi’iyah didirikan juga untuk membangun keguyuban diantara warga masyarakat yang memiliki latar belakang paham Ahlussunah Wal Jamaah. “Karena dengan adanya koperasi ini, kita warga dusun Wonosari bisa saling membantu untuk meningkatkan kesejahteraan kita” tambahnya dengan penuh semangat.

Yang lebih penting, menurut Sadat Mahiri, tokoh pemuda penggerak yang ada dusun Wonosari, adanya koperasi Assfiiyah ini adalah untuk melawan dan menghapus praktek-praktek rentenir yang saat ini terjadi.

“Meskipun dusun kami berada di lingkungan santri, tetapi praktek rentenir yang diharamkan oleh agama marak terjadi. Dosa bagi kita jika tidak ada upaya untuk memberantasnya” tegas Sadat.

Yang dilakukan oleh ibu-ibu ini bukanlah program yang muluk dan melangit seperti halnya program-program yang dibuat dan dijalankan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga besar. Mereka hanya ingin agar kebutuhan dasar mereka bisa terpenuhi. Namun jika dianalisis lebih jauh, apa yang mereka lakukan adalah sebagai upaya membangun keadilan dibidang ekonomi. Karena itu, yang mereka lakukan bukanlah sesuatu yang sederhana, tetapi memiliki nilai yang cukup tinggi.

Petang itu merupakan hari yang agak sedikit istimewa bagi mereka. Karena mereka akan mendapatkan bantuan tambahan modal dari LAZISNU Jombang. Meskipun tambahan modal yang disampaikan oleh LAZSINU Jombang hanya 3 juta rupiah, tetapi sangat berarti bagi pra-koperasi yang masih memberikan pinjaman paling besar dua ratus ribu untuk setiap anggota tersebut. (mus)

Add a Comment