Bukan Azhari Jika Tidak Moderat


Oleh: Hamzah (Alumni Muallimin, Mahasiswa di Al Azhar, Cairo)

Al-Azhar adalah Universitas Islam tertua di dunia yang didirikan pada tahun 975 M. Saat ini, Al-Azhar memiliki dua ulama kaliber internasional, yaituh Prof. Dr. Ahmad Thoyyib yang menjabat Grand Syaikh al-Azhar dan Kepala Majelis Hukama’ Muslimin dan; Prof. Dr. Ali Jum’ah yang pernah menjabat sebagai Grand Mufti Mesir selama sepuluh tahun. Dari kedua ulama ini kita mengenal istilah ‘Masisir’ dan ‘Azhari’.

Masisir adalah mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Mesir, sedangkan Azhari adalah mahasiswa yang memiliki sifat ke-Azhar-an, yang merujuk kepada Al-Azhar yang menganut konsep Wasathi (Islam Moderat). Selain itu, menurut Prof. Dr. Ali Jum’ah, Al-Azhar memiliki 3 prinsip metodologi:

1. Mengikuti pemikiran Imam Asy’ari dan Maturidi dalam berteologi
2. Bertamassuk (berpegangan) pada salah satu madzhab dari 4 madzhab yang muktabar dan sanadnya muttashil sampai Nabi SAW dalam ranah Fikih menurut Ahlussunnah wa al-Jama’ah
3. Berusaha selalu melakukan penyucian diri (tazkiyatunnafs) dalam mencapai derajat al-ihsan dengan bertasawwuf sesuai dengan konsep pemikiran Imam Ghozali dan Imam Junaid al-Baghdadi.

Ketika seseorg mahasiswa memiliki 3 hal di atas, maka ia layak menyandang gelar ‘Azhari’ yg hakiki, bukan Azhari abal-abal. Di samping itu, ketika seorang Masisir Azhari berafiliasi kepada PCINU Mesir (Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama), maka dia menyandang gelar ganda, yakni masisir yang azhari dan nahdliyyin.

Prinsip di atas bukan sekedar perkataan belaka. Dewasa ini, Masyayikh Al-Azhar sedang bersemangat dalam merealisasikan moderatisme Islam dan tiga prinsip di atas. Syekh Ahmad Thoyyib (Grand Syekh Azhar) tak henti-hentinya meyuarakan kedamaian, seperti perdamaian di Baitul Maqdis Palestina. Hal ini dikatakan Syekh Ahmad Thoyyib saat berpidato dalam Konferensi Al-Azhar Internasional beberapa waktu lalu, yang isinya menolak dengan lantang Baitul Maqdis diklaim sebagai milik Israel dan membela Baitul Maqdis dimiliki umat Islam Palestina bahkan umat Islam seluruh dunia. Disamping itu, di kancah internasional, Syekh Ahmad Thoyyib melakukan kerjasama dan bersinergi dengan barat, guna menjaga kestabilan perdamaian internasional.

Sedangkan dalam ruang lingkup Fikih, 3 (tiga) Masyayikh Azhar: Syekh Ahmad Thoyyib (Grand Syekh), Syekh Abbas Syumman (Wakil Grand Syekh), dan Syekh Muhyiddin Afifi (Rois ‘Am Majma’ Buhuts Islamiyyah) memberikan contoh yang cukup baik, ketiganya pernah melakukan shalat jamaah di Masjid Al-Azhar dalam satu shaf dengan menggunakan empat madzhab sekaligus. Di samping itu, terdapat banyak sekali talaqqi (ngaji bandongan) yang mengajarkan Empat Madzhab di dalam Masjid Al-Azhar.

Selain itu, banyak sekali turots dan tajdidat (kitab kuning klasik dan kontemporer) yang ditulis Masyayikh Azhar. Yang paling mutakhir masyayikh al-Azhar menulis Muqarrar (diktat kuliah) yang berisi semua ruang lingkup pembahasan tiga metodologi Al-Azhar di atas, dan dijadikan buku pegangan seluruh mahasiswa.

Jelaslah apa itu Al-Azhar, azhari, dan prinsip-prinsipnya. Jadi, kami minta kepada siapa saja yang sering menuduh bahwa, alumni/lulusan Al-Azhar, atau yang masih berstatus sebagai mahasiswa Al-Azhar itu sesat, jauh dari prinsip Aswaja, dan cenderung bersikap radikal dan ekstrem. Jangan salahkan Al-Azharnya, tapi salahkan orang trsebut, karena telah keluar dari prinsip yang telah digariskan oleh Al-Azhar dengan Islam moderat. Al-Azhar tak pernah mengajarkan radikalisme, sekularisme, kapitalisme, dan lain-lain.

Kairo, Jumat 6 April 2018

Be Sociable, Share!